Badan Kepegawaian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta

Flying to The Future

BKD DIY (28/09/2016) -

            Jika anda punya kesempatan berkunjung ke Korea, kesan pertama ketika mendarat di bandara Incheon pasti, “..... Wow, bandaranya wah banget.....”Tidak hanya dari luar, hampir semua fasilitas dan prasarana di dalamnya pun mendukung kesan wah tersebut. Fasilitas umum seperti pertokoan, restaurant, rest area, tempat bermain anak, rest room terlihat sangat bersih dan terpelihara. Disamping itu free wi-fi dengan kecepatan tinggi dapat diakses di ruang bandara, air minum purifier tersedia gratis di setiap sudut-sudut rest area. Bahkan jika kebetulanhandphone anda low bat, anda tetap dapat mengakses internet menggunakan fasilitas komputer gratis yang disediakan, sambil mengisi baterai anda penuh dan siap digunakan. Atau jika ingin lebih santai, bisa browsing dari HP sambil baringan di sofa tidur yang tersedia sembari dicas. Sepintas bayangan mengkhawatirkan sebelum mendaratyand disiarkan awak kabin,“Suhu di darat minus enam derajat celcius”, langsung sirna begitu mendarat dan melihat langsung, “This is Korea”.

               Jauh sebelum berangkat kami sudah berfikir, Yumna, anak saya yang baru berumur tiga tahun harus menerima cobaan berat saat tiba di Seoul nanti, yang saat itu suhunya di bawah nol derajat. Mungkin bagi saya dan istri ini bukan hal yang berat, namun bagi anak-anak,beradaptasi dari iklim Tropis di Indonesia yang dominan panas ke iklim empat musim yang kebetulan saat itu winter, adalah bukan hal yang mudah. Namun kami punya keyakinan, besarnya tekad dan kemauan selalu dapat mengalahkan seberat apapun ujian dan permasalahan. Sambil saya bisikkan ke istri dan anak saya, “La haula wala quwwata illa billah”. Allah mengirim kita untuk tinggal di sini pasti punya maksud dan tujuan yang lebih baik untuk kita.

               Itulah kesan pertama kami pada saat pertama kali mendarat di Incheon airport pada 23 Februari 2012. Dalam perjalanan kami selanjutnya, saya masih menyimpan pertanyaan dalam fikiran saya, mengapa Korea membangun bandara seperti ini?Dalam pemikiran kebanyakan orang, bandara adalah gerbang masuk pertama,terutama bagi wisatawan mancanegara, tentu saja kesan pertama yang umumnya ditonjolkan adalah “inilah Korea”. Mengapa bukan “Gyeongbokgung Palace” atau “Bulgugsa Temple”? yang kubah/atapnya megah seperti Rumah Gadang atau Tana Toraja di Indonesia.Atau Interior bandara yang dipenuhi ornamen-ornamen etnis dari kerajaan Silla, untuk menunjukkan bahwa bangsa Korea memiliki warisan budaya yang agung dan luhur. Namun ini berbeda sekali, bangunan yang terbuat dari pelat baja, dengan desain yang futuristik menyerupai pesawat ruang angkasa. Tentunya ini mempunyai makna tersendiri, mengapa bandara dibangun seperti ini.

                Beberapa waktu kemudian, sewaktu ada kesempatan bincang-bincang santai dengan Supervisor saya, Professor Kang-Hyun Jo (biasa disapa Prof. Jo), sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengkonfirmasi. Saya menanyakan filosofi bangunan bandara Incheon. Jawabnya,“Flying to the Future”. Korea memiliki ekpektasi tinggi di masa depan untuk menjadi salah satu negara yang mengimplementasikan teknologi tinggi (hi-tech). Ketika bandara ini dirancang, kita sedang mencanangkan transformasi dari negara berkembang menuju negara berteknologi tinggi yang modern. Korea ingin menjadikan bandaranya sebagai icon transformasi global, dan menargetkan Korea sebagai salah satu tujuan wisata dunia.

              Kultur, seni, budaya dan peninggalan sejarah tentu saja merupakan bagian penting dalam perjalanan sebuah bangsa. Namun kita melihat masa depan sebagai hal yang lebih segera ingin kita wujudkan. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun kita bisa memperbaikinya dengan kerja keras kita hari ini untuk membangun masa depan. Tahun 70-an, Korea adalah negara yang miskin karena perang saudara menghabiskan seluruh energi dan sumber daya negeri ini. Hampir semua anak-anak yang hidup di era tersebut merasakan kesulitan ekonomi, dan terbiasa dengan perut yang lapar. Prof. Jo terbiasa jalan berpuluh kilometer dari tempat tinggalnya ke Busan untuk kuliah. Namun, penderitaan itu yang kemudian menempa anak-anak Korea menjadi lebih kuat, ulet, disiplin dan pekerja keras.

            Wisatawan mancanegara yang berkunjung saat ini, mungkin tidak bisa melihat jejak-jejak kepedihan,penderitaan dan kemiskinan Korea. Bandara Incheon seolah menghipnotis setiap orang, dengan desain bangunannya yang hi-tech, fasilitas yang mewah, pelayanan check-in maupun pengambilan bagasi yang cepat, sehingga memberikan pengalaman yang berkesan dan menyenangkan.

            Mungkinkah hal ini diimplementasikan di Indonesia? Saya mengagumi bagaimana anak-anak Korea menempelkan jargon di stiker, poster dan pamflet, istilah “Impossible is Nothing”. Tidak mungkin itu tidak ada. (Di artikel selanjutnya akan kami bincangkan tentang jargon tersebut). Apa yang bisa dibangun oleh Jepang puluhan bahkan ratusan tahun sebelumnya, kini bisa juga diimplementasikan oleh Korea dalam waktu yang relatif lebih singkat. Industri otomotif, robot, elektronik, telekomunikasi, bahkan industri kreatif seperti musik, film, kuliner dan budaya sekalipun diwujudkan oleh Korea untuk mampu bersaing dengan Jepang dan dunia internasional sekalipun.

Ada 3 hal yang dapat kita ambil hikmah dari keberhasilan Korea membangun bandaranya sebagai “Flying to The Future”. Mudah-mudahan ini bisa kita wujudkan untuk membangun negeri yang kita cintai ini.

  1. Visi yang Konsisten

Korea saat ini sebenarnya telah dibayangkan dan diimpikan oleh hampir seluruh masyarakat Korea lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu. Kebencian atas pendudukan (penjajahan) Jepang pada waktu itu tidak dilampiaskan dengan kemarahan, namun dijadikan energi untuk membangun Korea agar lebih kompetitif dan bersaing dengan Jepang. Siapa pun yang terpilih menjadi pemimpin Korea saat ini seperti hanya berganti pakaianan saja, namun visi dan keinginan di hati mereka tetap sama untuk menjadikan Korea masuk ke jajaran 10 besar negara maju di dunia pada tahun 2050 nanti. Inilah yang mendorong pemerintah dan semua elemen masyarakat bahu membahu bekerja sama untuk saling menguatkan satu sama lain.

           Dalam perjalanannya, yang lebih berat untuk mendukung terwujudkannya visi sebuah bangsa bukanlah keterbatasan pengetahuan ataupun sumber daya yang dimiliki. “Impossible is nothing”, setiap ada niat dan kemauan pasti dapat diwujudkan. Yang lebih berat adalah menyingkirkan duri dan halangan-halangan yang setiap saat berusaha merintangi perjalanan visi sebuah bangsa. Korupsi, Keserakahan, Kemalasan/Ketidakseriusan adalah beberapa contoh penyakit yang dapat menghalangi upaya mewujudkan visi besar. Bagaimana hal ini dapat tertanam di setiap warga negara Korea, bahwa setiap warga yang memiliki peran dan kontribusi bagi kemajuan bangsa dapat disetarakan dengan seorang Pahlawan. Ini dapat terlihat dari bagaimana progresifnya mereka mengejar prestasi dan juara di dunia olahraga, industri robot maupun industri kreatif, dan lain-lain. Dan sebaliknya, betapa malunya mereka jika tidak berhasil menghadirkan prestasi di bidangnya, terlebih lagi mempunya track record kegagalan di departemennya. Wajar jika kemudian seorang Menteri mengundurkan diri karena gagal mengatasi sebuah hambatan, seorang Artis yang depresi bahkan bunuh diri karena tidak lagi berprestasi atau mendapatkan peran-peran di film layar lebar dan sebagainya.

           Jangan kita lihat pilihan tindakannya (bunuh diri), namun lihatlah sikap bagaimana malunya saya jika sudah tidak dapat menghasilkan karya/kontribusi apa-apa bagi masyarakat. Jika sikap ini dapat tertanam di setiap elemen masyarakat, maka duri dan penghalang pembangunan sebuah bangsa sedikit demi sedikit dapat terurai.

  1. Pemerintah yang Fasilitatif

Komponen kedua yang tidak kalah pentingnya adalah sikap pemerintah sebagai pengelola aset dan kekayaan negara. Program-program yang dimiliki Pemerintah maupun BUMN, didorong untuk pro pada masyarakat paling lemah. Anda tidak dapat membayangkan betapa hampir disemua layanan pemerintah di Korea sangat peduli bagi kaum defable. Bagaimana mereka diberikan tempat yang istimewa hampir disemua layanan pemerintah. Jika anda memiliki anak kecil atau balita, anda tidak akan dibiarkan antri di fasilitas umum (pengurusan imigrasi, alien card, dan perizinan lainnya). Kaum lansia diberikan tarif dan tempat duduk khusus di semua transportasi di seluruh Korea. Jadwal Kereta Api (KTX) yang sangat kerap, menjadikan seluruh masyarakat tidak pernah khawatir terlambat/ketinggalan atau kehabisan tiket kereta jika ingin bepergian kemanapun.

Jika ditanya, apa tidak rugi BUMN nya jika menyediakan layanan yang terlalu royal? Jika kita menggunakan kaca mata BUMN di tanah air mungkin ini tidak efisien, karena antara pengguna jasa (dalam hal ini jumlah penduduk Korea) dan fasilitas yang diberikan bisa jadi over facility. Mungkin pada awalnya kita melihat sebagai sebuah penghambur-hamburan keuangan negara, namun dalam perjalanannya kemudian, perilaku dan kebiasaan masyarakat berubah total. Dari semula yang lebih senang menggunaan kendaraan pribadi, karena takut berdesak-desakan di angkutan, takut telat atau ketinggalan dan takut tidak bisa datang on-time, akhirnya berubah menjadikan transportasi massa (bus, subway, kereta api) sebagai angkutan favorit untuk bepergian ke penjuru Korea. Pada ujungnya kerugian yang dikhawatirkan sebelumnya oleh BUMN di Korea tidak pernah ada. Di butuhkan keberanian besar dari Pemerintah untuk membalik hirarki dan pemikiran, mana yang lebih efisien?  Memangkas pengeluaran negara untuk mengefisienkan layanan, atau mendorong efisiensi di masyarakat (dalam penggunaan transportasi pribadi) dengan menyediakan fasilitas transportasi yang melimpah dan terjangkau. Alhasil kemacetan dengan sendirinya teratasi setelah masyarakat berpindah dari moda transportasi pribadi ke mode umum.

Bagaimana dengan transportasi International dari dan ke Korea? Incheon Airport sendiri dikenal sebagai “the largest and busiest airports in the world”. Otoritas bandara mengklaim bahwa durasi waktu rata-rata untuk keberangkatan dan kedatangan adalah 19 menit dan 12 menit. Rata-rata ini jauh lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata keberangkatan dan kedatangan untuk semua bandara di dunia, yaitu 60 menit dan 45 menit.

  1. Masyarakat yang Tumbuh dan Kompetitif

Sewaktu anak saya mendaftar sekolah Orinijib (setara TK) di Korea Selatan, saya baru menyadari ada banyak hal mendasar yang menjadikan sistem pendidikan di sana lebih strich (konsisten) dibanding dengan di tanah air, terutama bagi anak-anak. Waktu itu saya sudah mendengar bahwa sistem pendidikan di Korea Selatan adalah terbaik kedua di dunia, setelah Finlandia. Dalam pemikiran saya pribadi, sewaktu belum berangkat ke Korea, pendidikan bagi anak didorong untuk memunculkan bakat-bakat alami yang dimiliki anak. Namun pada perjalananya saya baru menyadari, bahwa anak-anak usia dini di Korea itu lebih banyak dikenalkan dengan bakat seni. Tanpa terkecuali, pendidikan dan pelatihan berbagai alat musik, sendratari (drama dan tarian), dence (k-pop) maupun vokal diperkenalkan kepada semua murid. Target akhir, setiap murid harus menampilkan performance (kemampuan bakatnya) di acara pentas seni tutup tahun ajaran. Contoh video lengkap acara pentas seni anak saya (Yumna) sewaktu sekolah di Korea Selatan dapat di akses di https://www.youtube.com/watch?v=Fu2EOd1ZZTU.

Yang menjadi kekhawatiran kami sewaktu Yumna mendaftar sekolah adalah bahasa. Dalam perjalannya kami menyadari, yang paling kita anggap lemah (dan dikhawatirkan) itu ternyata kemudian menjadi yang paling membanggakan. Saya melihat secara langsung bagaimana Yumna dengan aktifnya bertanya kepada Gurunya, dengan bahasa Korea. Ketika kami berjalan-jalan di taman dekat sekolah Yumna, saya kagum melihat Yumna berbincang-bincang dengan teman-teman sekolahnya yang sedang bermain di taman. Dan puncaknya, kami terharu sewaktu teman-temannya melepas kelulusan Yumna sebelum kembali ke tanah air. Mereka berfoto-foto di depan halaman sekolah sambil berpamitan satu sama lain, dalam bahasa Korea.

Pada akhirnya, kemajuan pesat yang dicanangkan negara dengan dukungan dari pemerintah yang fasilitatif bertujuan untuk mendorong dinamika masyarakat yang tumbuh menjadi lebih kompetitif. Pendidikan sebagai salah satu kunci mewujudkan masyarakat yang kompetitif harus didorong untuk menghasilkan bukan sekedar insan-insan muda yang siap kerja. Namun lebih daripada itu adalah insan-insan muda yang mengenal lebih dalam apapun hal-hal yang menjadi bakat alaminya. Sehingga masing-masing individu mengenal point-point positif (nilai tambah) yang dimilikinya, yang kemudian dapat dikontribusikan di dunia kerja.

Bagaimana agar mereka bisa mengukur kelebihan dirinya? Tentu saja perlu alat ukur yang tepat. Kebetulan saya mempunyai teman yang memiliki bakat di virtual reality. Kendatipun pekerjaan itu jauh dari kemampuan analitis untuk menulis karya ilmiah, namu ia punya kesadaran utnuk menuangkan proposal ide-ide dan inovasinya menjadi paper/jurnal ilmiah. Menulis tidak hanya menuangkan gagasannya, namun sebenarnya kita sedang menanamkan kedalam pemikiran kita bahwa inilah kontribusi karya/keilmuan yang menjadi keunggulan saya. Karya ilmiah (paper/jurnal) itulah sebagai acuan seberapa besar kontribusi gagasan kita bagi bidang keilmuan yang kita miliki.

 

Mudah-mudahan dapat menjadi hikmah. (Joko)

 

Data Sejenis

 

Komentar

Belum ada komentar
Nama*
Email*
Alamat*
Pesan*