Yogyakarta dan gempa bumi adalah dua hal yang tak terpisahkan oleh sejarah dan letak geografis. Setiap kali tanah Mataram bergetar, memori kolektif kita seolah ditarik kembali pada peristiwa kelam Mei 2006. Namun, di balik trauma yang tersisa, ada ruang besar untuk refleksi diri. Sudahkah kita sekadar "ingat" bencana, atau sudah benar-benar "sadar" bencana?
Indonesia dan bencana adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Secara geografis, kita berpijak di atas Ring of Fire, sebuah "jalur api" yang menjanjikan kesuburan sekaligus menyimpan potensi risiko geologis yang masif. Namun, pertanyaannya kini bukan lagi soal kapan bencana akan datang, melainkan bagaimana posisi mental kita menghadapinya.

Kesadaran adalah tingkat literasi yang jauh lebih tinggi. Orang yang "Sadar" bencana memandang keselamatan sebagai kebutuhan primer, bukan sekadar kewajiban administratif. Tepat Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 2026 dengan tema “Dua Dasawarsa Gempa Jogja: Bangkit dan Siaga Bencana”. Badan Kepegawaian Daerah DIY melaksanakan Simulasi Evakuasi Bencana bertempat di kantor BKD DIY JL.Kyai Mojo No 56 Yogyakarta, Kamis, 23 April 2026. Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya memperkuat fondasi keselamatan di lingkungan kerja pemerintahan. Momentum penting ini untuk menguji sejauh mana kesiapan kita baik secara individu, keluarga, maupun komunitas dalam menghadapi ancaman bencana yang bisa datang kapan saja.
Mari jadikan simulasi serentak ini sebagai batu pijakan untuk memperkuat fondasi keselamatan di lingkungan kerja dan tempat tinggal kita. Karena pada akhirnya, tingkat literasi tertinggi adalah ketika kita mampu menyelamatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

