
Yogyakarta, 21 Mei 2026 -- Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Badan Kepegawaian Daerah DIY kembali menyelenggarakan kegiatan pembekalan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) calon purna tugas periode Juli–Desember 2026 pada tanggal 12 Mei 2026. Kegiatan diadakan di ruang rapat Sekar Jagat.
Pembekalan merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada ASN yang telah memberikan dedikasi dan pengabdian selama puluhan tahun. Masa pensiun merupakan fase baru kehidupan yang membutuhkan kesiapan matang agar para ASN tetap produktif, sehat, dan sejahtera. Oleh karena itu, Pemda DIY terus mendorong para calon pensiunan untuk mempersiapkan diri sejak dini.
Dalam sambutan Kepala BKD diwakili oleh Kepala Bidang Administrasi Kepegawaian, Wahyu Widayat, mengatakan melalui pembekalan keistimewaan diharapkan para pensiun dapat menjadi “agen kabudayaan” yang dapat mengimplementasikan dan melestarikan tata nilai budaya Yogyakarta sekaligus dapat memberikan pengetahuan tentang keistimewaan DIY kepada keluarga dan masyarakat sekitar ketika nantinya kembali ke masyarakat.
Sementara itu, Eko Suwanto, Komisi A DPRD DIY, mengatakan kepada para purna bahwa Pendidikan Wawasan Kebangsaan diselenggarakan untuk meningkatkan pengamalan Pancasila, membina kerukunan dan toleransi masyarakat yang majemuk yang terdiri atas beragam suku, ras, agama, golongan, sosial, ekonomi, budaya dan kearifan lokal sehingga terwujud masyarakat DIY yang berkharakter unggul dan menjiwai Pancasila.
Sedangkan dalam presentasinya, KRT. Wijaya Pamungkas dari Kraton Ngayogyakarta menjelaskan, salahn satu yang menjadikan Yogyakarta itu istimewa adalah Kraton. Sejarah Kraton tidak terlapas dari Pangeran Mangkubumi, ketika beliau melawan VOC. didirikan oleh Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti, yang memecah Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Perjanjian Giyanti pada tahun 1755: Perjanjian antara VOC, Pakubuwono III, dan Pangeran Mangkubumi ini menjadi awal mula pembagian wilayah Mataram (Palihan Nagari). Pangeran Mangkubumi kemudian diangkat menjadi raja pertama bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I
Pembicara berikutya, Prof. Dr. Suwarna Dwijanaara, M.Pd nenjelaskan Sumbu Filosofi bukan hanya penataan kota, tetapi juga cerminan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta. Filosofi ini dikenal dalam konsep sangkan paraning dumadi, yaitu perjalanan manusia dari asal kehidupan menuju kembali kepada Sang Pencipta. Panggung Krapyak melambangkan awal kehidupan, Keraton Yogyakarta menggambarkan kedewasaan dan pusat kehidupan manusia, sedangkan Tugu Pal Putih menjadi simbol perjalanan spiritual menuju kesempurnaan hidup.
Berikutnya, Ir. Ibnu Subroto, Kewirausahaan berbasis budaya lokal telah terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga identitas budaya daerah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Yogyakarta memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan maupun perkotaan.
Kegiatan pembekalan berlangsung dengan suasana hangat dan penuh kebersamaan. Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dan berbagi pengalaman. Banyak peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru sekaligus menumbuhkan optimisme dalam menghadapi masa pensiun.
Melalui pembekalan ini, Pemda DIY berharap para calon pensiunan dapat menjalani masa purna tugas dengan lebih percaya diri, sehat, mandiri, dan tetap berkarya di tengah masyarakat. Pengabdian seorang ASN sesungguhnya tidak berhenti ketika memasuki masa pensiun, melainkan terus berlanjut melalui kontribusi positif dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan.

